Senin, 12 Mei 2014

Tafsir Pendidikan Maryam


oleh : 
Zaenal Arifin 
Nur Farida 
Pascasarjana PTIQ JAKARTA





A.  Latar Belakang
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui

Allah telah memilih Adam yang merupakan bapak seluruh manusia sebagai manusia pilihan untuk mengemban misi kenabiaan. Nuh” sesepuh para Rasul (syaikh al-Mursalin) “Keluarga Ibrahim,” keluarga dan kerabat terdekatnya. Mereka adalah Ismail, Ishaq dan para nabi keturunan keduanya, termasuk nabi Muhammad yang merupakan penutup para nabi. Dan Keluarga Imran, diantara mereka adalah Isa bin Maryam yang merupakan Nabi terakhir dari bani Israil.
Satu-satunya surat dalam al Quran yang diberi nama dengan sebuah keluarga adalah surat ali Imran (keluarga Imran) tentu bukan sebuah kebetulan nama keluarga ini di pilih menjadi salah satu nama surat dalam al Quran. Di samping untuk menekankan pentingnya pembinaan keluarga, pemilihan nama ini juga mengandung banyak pelajaran yang dapat di petik dari potret keluarga Imran.
Satu hal yang unik adalah profil Imran sendiri yang namanya diabadikan menjadi nama surat ini tidak pernah disinggung sama sekali, yang banyak dibicarakan justru adalah istri Imran dan putrinya Maryam.
Perjalanan keluarga Imran terekam dalam Al Quran pada saat Imran dan istrinya sudah berusia lanjut, akan tetapi belum dikaruniakan seorang anak. Maka istri Imran bernazar, seandainya ia dikaruniai Allah seorang anak maka ia akan serahkan anaknya menjadi pelayan rumah Allah (baitul Maqdis). Harapan ibu ingin mendapatkan seorang anak laki-laki tetapi Allah memberikan anak perempuan yang kemudian diberi nama Maryam.
Maryam adalah wanita perawan yang suci, dibesarkan ibunya di dalam mihrab ketika dalam kandungan, semua orang tidak mengenalnya kecuali seorang wanita yang menjaga kesuciannya, sampai-sampai ada yang mengaitkannya dengan Harun dari keturunan israel yang mensucikan dirinya, yang tidak seorang pun mengenal dirinya dan keluarganya melainkan kebijakannya dan kebaikannya.
Itulah sosok seorang wanita yang suka berkhalwat untuk suatu kebaikan, darinya terlahir seorang nabi bagi kaumnya Isa as yang terlahir tanpa seorang ayah, membuktikan kepada seluruh manusia bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Di dalam Al Quran kisah Maryam terekam pada surat Ali Imran dan Surat Maryam. Dalam surat ali Imran di gambarkan kisah keluarganya dan bagaimana ia di asuh dan dibesarkan oleh zakaria, dalam surat maryam dilanjutkan kisah bagaimana ia mensucikan darinya dan bagaimana Allah menunjukkan kebesaran Nya dengen memeberikan keistimewaan kepadanya melahirkan anak tanpa seorang ayah.

B.   Rumusan Masalah
Bagaimana kisah Maryam dan pendidikan apa yang dapat diambil dari kisah perjalanan kehidupan Maryam.
C.  Tujuan
Mengetahui kisah Maryam dan pendidikan apa yang dapat diambil dari kisah perjalanan kehidupan Maryam

PEMBAHASAN
A.  Kisah Maryam dalam Al Quran

* ¨bÎ) ©!$# #s"sÜô¹$# tPyŠ#uä %[nqçRur tA#uäur zOŠÏdºtö/Î) tA#uäur tbºtôJÏã n?tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÌÌÈ   Op­ƒÍhèŒ $pkÝÕ÷èt/ .`ÏB <Ù÷èt/ 3 ª!$#ur ììÏÿxœ íOŠÎ=tæ ÇÌÍÈ   øŒÎ) ÏMs9$s% ßNr&tøB$# tbºtôJÏã Éb>u ÎoTÎ) ßNöxtR šs9 $tB Îû ÓÍ_ôÜt/ #Y§ysãB ö@¬7s)tGsù ûÓÍh_ÏB ( y7¨RÎ) |MRr& ßìŠÉK¡¡9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÌÎÈ   $£Jn=sù $pk÷Jyè|Êur ôMs9$s% Éb>u ÎoTÎ) !$pkçJ÷è|Êur 4Ós\Ré& ª!$#ur ÞOn=÷ær& $yJÎ/ ôMyè|Êur }§øŠs9ur ãx.©%!$# 4Ós\RW{$%x. ( ÎoTÎ)ur $pkçJø£Jy zOtƒötB þÎoTÎ)ur $ydäŠÏãé& šÎ/ $ygtG­ƒÍhèŒur z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÌÏÈ   $ygn=¬6s)tFsù $ygš/u @Aqç7s)Î/ 9`|¡ym $ygtFt7/Rr&ur $·?$t6tR $YZ|¡ym $ygn=¤ÿx.ur $­ƒÌx.y ( $yJ¯=ä. Ÿ@yzyŠ $ygøŠn=tã $­ƒÌx.y z>#tósÏJø9$# yy`ur $ydyZÏã $]%øÍ ( tA$s% ãLuqöyJ»tƒ 4¯Tr& Å7s9 #x»yd ( ôMs9$s% uqèd ô`ÏB ÏZÏã «!$# ( ¨bÎ) ©!$# ä-ãötƒ `tB âä!$t±o ÎŽötóÎ/ A>$|¡Ïm ÇÌÐÈ  
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.. (ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".. Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.". Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. ( Qs. Ali Imran : 33-37)

Pembasan per-ayat

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)

Tafsir :
Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa dia telah memilih Adam dan keluarga Ibrahim, serta keluarga Imran, dan menjadikan mereka manusia pilihan di masanya masing-masing, lagi pula diberikan kepada mereka nubuwwah dan risalah.
Adam as, adalah Rasul pertama sebagai bapak dari segala manusia yang telah dipilih Allah sebagai Nabi. 

Firman Allah:

ثم اجتباه ربه فتاب عليه وهدى
 

Artinya:
Kemudian Tuhan memilihnya, maka Dia menerima tobatnya dan memberi petunjuk.(Q.S Taha: 122)

Dari keturunan Adam as, lahirlah para nabi dan rasul. Rasul kedua adalah Nuh as, sebagai bapak manusia yang kedua. Di masanya telah terjadi topan yang besar yang membinasakan sebagian besar umat manusia. Dan Allah telah menyelamatkan dia dan keluarganya dari bencana yang dahsyat itu dalam satu bahtera. Keturunannya banyak yang menjadi nabi dan rasul. Kemudian keturunan beliau ini tersebar ke beberapa negeri dan timbul di kalangan mereka penyembahan berhala.
Kemudian datanglah Ibrahim sebagai nabi dan rasul. Sesudah Ibrahim datanglah berturut-turut beberapa orang nabi dan rasul yang berasal dari keturunannya, seperti Ismail, Ishak, Yakub dan Asbat, (anak cucu Bani Israel). Di antara keturunan Nabi Ibrahim yang terkemuka adalah: Keluarga Ismail, Imran yaitu `Isa dan Ibunya Maryam binti `Imran keturunan Yakub.
Kemudian kenabian itu ditutup dengan seorang putra dari keturunan Nabi Ismail as yaitu Muhammad saw.

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (3:35)

Tafsir :
Pada ayat yang lalu Allah menerangkan bahwa antara dua keluarga besar itu yakni keluarga Ibrahim dan keluarga Imran yang satu sama lain jalin menjalin, maka pada ayat ini Allah menerangkan kisah salah seorang keturunan mereka yang terkemuka yakni istri Imran yakni Hannah binti Faqud yang sedang hamil. Ia menazarkan anak yang masih dalam kandungannya itu untuk dijadikan abdi yang selalu berkhidmat untuk beribadah di Baitulmaqdis. Dia tidak akan membebani lagi suatupun pada anaknya itu nanti, karena anak itu semata-mata telah diikhlaskan untuk berbakti di sana
. 
Pada akhir ayat 34 telah dijelaskan bahwa Allah Maha Mendengar apa yang diucapkan oleh istri `Imran itu, Maha Mengetahui niatnya yang suci, dan mendengar pujiannya kepada Allah ketika ia bermunajat. Hal-hal inilah yang menyebabkan doanya terkabul, dan harapannya terpenuhi sebagai karunia dan kebaikan dari Allah

Di dalam beberapa ayat ini dua kali disebut nama Imran. Yang pertama adalah ayat 33 yaitu Imran ayah Nabi Musa as; sedang yang kedua adalah pada ayat 35, yaitu Imran ayah Maryam. Jarak antara kedua orang itu kurang lebih 1800 tahun.

Ayat ini menunjukkan bahwa ibu boleh menazarkan anaknya, dan boleh mengambil manfaat dengan anaknya itu untuk dirinya sendiri. Dan pada ayat ini terdapat pula pelajaran, yaitu hendaknya kita berdoa kepada Allah agar anak kita menjadi seorang yang rajin beribadah dan berguna bagi agamanya, seperti doa Zakaria yang dikisahkan oleh Allah dalam Alquran.

Setelah istri Imran melahirkan, dan ternyata yang lahir itu perempuan padahal yang diharapkan anak laki-laki, nampaklah diwajahnya kesedihan dan putuslah harapannya untuk melaksanakan nazarnya, Dia berkata: "Ya Tuhanku, Aku melahirkan anak perempuan". Seolah-olah dia memohon ampun kepada Tuhan, bahwa anak perempuan itu tidak patut memenuhi nazarnya yaitu berkhidmat di Baitulmakdis. Tetapi Allah SWT lebih mengetahui martabat bayi perempuan yang dilahirkan itu, bahkan dia jauh lebih baik dari bayi laki-laki yang dimohonkannya (Depag)



Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (3:36)

Ayat ini menegaskan tentang kemuliaan putri yang dilahirkan itu, dan menolak persangkaan bahwa bayi yang dilahirkan itu lebih rendah martabatnya dari pada bayi laki-laki seperti yang diharapkan oleh istri Imran itu.
Setelah istri `Imran menyadari bahwa demikianlah kenyataan anaknya, dan meyakini adanya hikmah dan rahasia di balik kenyataan itu, maka dia menyatakan bahwa bayi itu akan diberi nama Maryam. Din tidak akan menarik kembali apa yang telah dinazarkan untuk menyerahkan anak itu berknidmat di Baitulmaqdis, walaupun bayi itu wanita, yang menurut anggapannya tidak pantas untuk menjaga Baitulmaqdis, namun dia akan menjadi seorang abdi Tuhan yang khusyuk. Dan istri Imran memohon supaya Allah SWT menjaga dan melindungi bayi itu dari godaan setan yang mungkin menjauhkannya dari kebajikan.
Mengenai hal itu, Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut:

كل بني آدم يمسه الشيطان يوم ولدته أمه إلا مريم وابنها 
"Tiap-tiap anak cucu Adam yang dilahirkan dijamah oleh setan pada waktu kelahirannya kecuali Maryam dan putranya".(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ibnu Abbas berkata : “sesunggunya ia mengucapkan ini karena apa yang di nazarkan tidak diterima, ini mengingat dia bernazar jika mendapat seorang bayi laki-laki lalu Allah memberi Maryam.
Dalam bahasa Ibrani, Maryam berarti seorang ahli ibadah yang berkhitmat pada Tuhan.[1]
Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. (3:37)

Allah menerima Maryam sebagai nazar disebabkan permohonan ibunya. Allah meridainya untuk menjadi orang yang semata-mata beribadat dan berkhidmat pada Baitulmaqdis walaupun Maryam itu masih kecil dan seorang perempuan. Padahal orang yang dikhususkan untuk berkhidmat dalam Baitulmakdis itu biasanya hanyalah laki-laki yang akil balig dan sanggup melaksanakan pengkhidmatan.
Allah juga memelihara dun mendidik-Nya serta membesarkannya dengan sebaik-baiknya. 
Pendidikan yang diberikan Allah kepada diri Maryam ini meliputi pendidikan rohaniah dan jasmaniah. Maka dia menjadi seorang yang berbadan sehat dan kuat serta berbudi baik, dan bersih rohani dan jasmaninya. Allah SWT telah pula menjadikan Nabi Zakaria sebagai pengasuh dan pelindungnya.

Diriwayatkan bahwa ibunya menjemput dan membawanya ke mesjid, lalu meletakkannya di depan pendeta-pendeta yang ada di sana. Dia berkata: "Ambillah olehmu anak yang kunazarkan ini". Maka mereka saling memperebutkan bayi itu, karena dia adalah putri dari pemimpin mereka. Masing-masing mereka ingin menjadi pengasuhnya. Nabi Zakaria kemudian berkata: "Aku lebih berhak mengasuhnya, karena bibinya itu adalah isteriku". Akan tetapi para hadirin ada yang menolak kecuali jika ditentukan dengan undian. Maka pergilah mereka semua ke sungai Yordan, melepaskan anak panah mereka masing-masing ke sungai itu, dengan maksud barang siapa yang anak panahnya dapat bertahan terhadap arus air sungai itu, dapat cepat naik. maka dialah yang berhak mengasuh anak bayi Maryam itu. Ternyata kemudian anak panah Nabi Zakarialah yang dapat bertahan dan timbul meluncur di permukaan air, sedang anak panah yang lainnya hanyut tenggelam di bawa arus. Maka dalam undian itu Zakaria lab yang menang dan Maryam segera diserahkan kepadanya untuk dipelihara dan dididik di bawah asuhan bibinya sendiri.

Lanjutan ayat 37 di atas:

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)

Tafsir :
Manakala Maryam sudah mulai dewasa, diapun telah mulai beribadat di mihrab.
 Tiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab, ia dapati di sana makanan dan bermacam buah-buahan yang tidak ada pada waktu itu karena belum datang musimnya. Zakaria pada suatu waktu menanyakan kepada Maryam tentang buah-buahan itu dari mana dia memperolehnya padahal saat itu musim kemarau. Maka Maryam menjawab : "Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki Nya tanpa batas.
Menurut Mujahid, Zakaria mendapati di sisi maryam buah-buahan yang muncul di musim dingin pada musim panas dan buah-buahan yang muncul di musim panas pada musim dingin.[2]
Ibnu Katsir berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan Karamah (kemuliaan) orang-orang yang dekat dengan Allah.
Allah menerangkan kisah tersebut untuk meneguhkan kenabian Muhammad saw, dan mengalihkan pikiran ahli kitab yang membatasi karunia kenabian itu pada orang Israel saja.
Juga untuk menyalahkan pikiran orang musyrikin `Arab yang menolak kenabian Muhammad saw, karena menganggap dia hanya manusia seperti mereka saja.
Allah menjelaskan bahwa Dia telah menjadikan Adam sebagai orang pilihan dan khalifah di atas bumi, serta menjadikan Nuh sebagai orang pilihan dan bapak yang kedua dari umat manusia dan kemudian memilih Ibrahim serta keluarganya untuk menjadi manusia pilihan dan pembimbing manusia. Orang Arab dan para ahli Kitab mengetahui hal itu. Tetapi orang musyrik Arab menyombongkan diri sebagai keturunan Ismail dan pemeluk agama Ibrahim dan ahil Kitab menyombongkan diri atas terpilihnya keluarga 'lmran dari keturunan Bani Israel cucu Nabi Ibrahim. Baik orang Arab maupun ahli Kitab mengetahui bahwa Allah telah memilih mereka itu semata-mata hanyalah atas kehendak-Nya sebagai karunia dan kemurahan-Nya. Maka apakah yang menghalangi Allah untuk menjadikan Muhammad saw seorang pilihan di atas bumi ini. sebagaimana Allah memilih mereka juga? Allah memilih siapapun yang Dia kehendaki di antara makhluknya. Allah telah memilih Muhammad saw. serta menjadikan sebagai pimpinan bagi umat manusia dan mengeluarkan dari kegelapan syirik dan kebodohan. kepada cahaya kebenaran dan keyakinan. Tidak seorangpun dari keluarga Ibrahim dan Imran yang lebih besar pengaruhnya daripada Muhammad saw.


Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)

Tafsir :
Dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw, tentang peristiwa yang dialami oleh Maryam ketika dia didatangi oleh Malikat Jibril as . 
Pembicaraan Jibril dan Maryam di sini bukanlah seperti pembicaraan Jibril dengan nabi-nabi, yang merupakan penyampaian wahyu Allah kepada mereka melainkan sebagai pemibicaraan malaikat dengan wali-wali Allah, yang berupa ilham. 
Kesyukuran Maryam kepada Allah dengan 'ibadah dan ketaatannya yang tidak putus-putusnya, menambankan terpeliharanya kemuliaan dan kesempurnaan diri pribadinya, serta menambah jauhnya dari segala sifat yang tidak baik. Karena itu wajarlah bila Maryam memperolehlangsung ilham dari Jibril as sebagai penghormatan atas dirinya.
Jibril as menandaskan bahwa Allah telah memilih Maryam untuk berkhidmat di Baitul Makdis, din membersihkan dia dari keaiban lahir dan batin, serta menentukannya untuk melahirkan seorang nabi meskipun dia tidak dijamah oleh seorang lelaki. Dan Allah melebihkannya atas segala wanita di masanya.
Sabda Rasul Saw:

كمل من نساء العالمين أربع: مريم وآسية امرأة فرعون وخديجة وفاطمة 
Artinya: 
Sebaik-baiknya wanita di dunia ini adalah empat orang : Maryam. Asiyah istri Firaun. Khadijah dan Fatimah (Ibnu 'Asakir dari Ibnu 'Abbas)
Hai Maryam, ta’atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. (3:43)

Tafsir :
          Pada ayat ini Allah mewajibkan kepada Maryam untuk taat kepada. Nya sebagai tanda syukur atas nikmat yang dianugerahkan Nya kepadanya, dengan firman-Nya yang artinya: "Taatilah Tuhanmu hai, Maryam bersujudlah, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk". Yang dimaksud dengan "sujud" di sini adalah sujud seperti sujud dalam salat dan dimaksudkan dengan "rukuk" ialah salat itu sendiri. Ayat ini memerintahkan kepada Maryam supaya melakukan salat berjemaah bersama-sama orang lain.
Salat menurut pengertian orang Yahudi waktu itu ialah doa atau bersujud. Sujud dengan meletakkan dahi ke bumi itu salat mereka, semua 'ibadah yang dilakukan Maryam bertempat di Mihrab.

          yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.(3:44)

          Pada ayat ini kisah Istri Imran dan putrinya Maryam, dan Kisah Zakaria dan Yahya yang telah kami ceritakan kepada kalian, semuanya ini kabar-kabar bersifat ghaib dan penting yang telah kami wahyukan kepadamu, wahai Muhammad yang tidak engkau ketahui sebelumnya.
          Diriwayatkan bahwa ketika Hannah melahirkan Maryam, dia meletakkan Maryam dalam sobekan kain yang dilipat-lipat dan membawanya ke Masjid lalu bayi itu di simpan disisi rahib-rahib Bani Israil yang sedang berada di Baitul Maqdis. Hannah kemudian Berkata kepada mereka, “ siapa yang akan memelihara anak ini?” Lalu mereka berlomba untuk memelihara Maryam, karena dia putri pemimpin mereka, lantas mereka mengundinya, maka keluarlah hasilnya bahwa yang berhak memelihara Maryam adalah Zakaria, sehingga zakaria pun memeliharanya.[3]
          Ibnu Katsir berkata hanya kuasa Ilahi yang menjadikan Zakaria sebagai pemelihara Maryam, sehingga dia membahagiakan Maryam dan memperoleh ilmu yang berlimpah dan amal yang shalih.

          (Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)

          Di dalam ayat ini Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw, terhadap ceritera Maryam di kala Jibril datang kepadanya, yang membawa kabar gembira kepadanya bahwa dia akan melahirkan seorang putra yang saleh. Ketika Jibril menyampaikan kabar gembira itu Allah telah memilihnya, menyucikannya untuk tetap beribadah kepada Allah dan selalu bersyukur kepada-Nya. Yang dimaksud dengan malaikat di sini ialah Jibril, sebagaimana di dalam firman Allah:

فأرسلنا إليها روحنا فتمثل لها بشر سويا 

Artinya: 
"Lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sebenarnya". (Q.S Maryam: 17)
 
Isa as disebut dengan "kalimat Allah", sebagai pemberitahuan tentang proses penciptaannya yang berlainan dengan kejadian manusia biasa.
 
Isa as dinamakan Al Masih sedang Al Masih itu adalah gelar raja, karena kata Al Masih dalam Taurat dan Injil berarti "yang disapu atau yang diminyaki". Menyapu dan meminyaki itu adalah suatu ketentuan dalam adat istiadat mereka bahwa siapa yang telah disapu dengan minyak suci oleh kepala agama, maka dia sudan menjadi suci pula, cakap untuk memegang kerajaan, memiliki ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lagi mendapat berkah. Di sini Allah SWT menunjukkan bahwa Isa as senantiasa mendapat berkah walaupun belum pernah disapu dengan minyak suci itu.
 
Ada pula yang mengatakan hahwa nama Isa itu adalah berasal dari kata Yunani "yasu", artinya "yang diselamatkan yang terpilih".
 
Para nabi dahulu telah menerangkan bahwa akan datang seorang Al Masih, dia seorang raja yang akan mengembalikan kekuasaan Bani Israel yang telah hilang.
 
Maka ketika Isa lahir dan dinamai Al Masih, segolongan mereka beriman kepadanya Orang-orang Yahudi yang mengingkarinya berpendapat, bahwa yang dijanjikan itu belum lagi datang.
Dan dia dinamakan lbnu Maryam (putra Maryam) untuk memberi pengertian bahwa Isa akan lahir tanpa ayah karena itulah ia dibangsakan kepada ibunya.
Isa as mempunyai kedudukan yang terkemuka di dunia, karena dia mendapat tempat di hati orang-orang mukmin serta dihormati. Perbaikan-perbaikan yang ditinggalkan Isa as tetap membekas dikemudian hari. Dan kebesarannya itu jauh lebih nyata daripada kebesaran para penguasa atau raja-raja sebab orang-orang menghormat kepada para penguasa dan raja itu adalah untuk menghindarkan diri dari penyiksaan mereka, atau karena takut terhadap kelaliman mereka, atau untuk mengambil muka supaya diberi kedudukan duniawi. Kebesaran yang demikian ini adalah kemegahan semu belaka, tanpa ada bekasnya sedikit juapun di dalam jiwa, bahkan mungkin menimbulkan kebencian.
Selain dari itu, Isa as mempunyai kebesaran di akhirat, yaitu kedudukan dan kemuliaan yang tinggi, karena beliau adalah senantiasa dekat kepada Tuhan.




Dan Dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan Dia adalah Termasuk orang-orang yang saleh."(3: 46)

Tafsir
          Dalam ayat ini Allah menerangkan, Isa as telah berbicara dengan manusia ketika masih kecil dalam ayunan, untuk mejelaskan kebersihan ibunya dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya, dan untuk menjadi bukti atas kenabiannya. Isa as juga berbicara dengan manusia ketika dia sudah dewasa yakni sesudah Allah mengangkatnya menjadi rasul dan menurunkan kepadanya wahyu Nya untuk menyampaikann perintah dan larangan-laranganNya kepada Manusia. Beliau termasuk orang yang saleh yang telah diberi hikmat oleh Allah yakni para Nabi, Siddiqin dan Syuhada.
                                                                                                                                                                                                                                       
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia. ( 3 ; 47)
Tafsir
          Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Maryam menghadapkan kata-katanya kepada Allah swt yang telah mengutus Jibril yaitu “bagaimana aku akan memperoleh seorang putra, padahal aku tidak tidak bersuami. Apakah kejadian yang demikian itu dengan perkawinan dahulu ataukah dengan kodrat Allah semata-mata,” mungkin Maksud kata-kata Maryam itu untuk menyatakan kekagumannya pada kekuasaan Allah dan memandang hal itu sebagai kekuasaan Allah dan memandang hal itu suatu mukjizat yang besar. Allah menjelaskan bahwa kelahiran demikian akan terjadi bilamana Allah menghendakinya, Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya jika Allah berkehendak menetapkan sesuatu maka hanya cukup berkata : “ jadilah engkau” lalu jadilah dia.
          Allah menciptakan apa saja yang dikehendaki Nya termasuk menciptakan hal-hal yang ajaib, yang menyimpang dari kebiasaan, seperti menciptakan anak tanpa ayah, bahkan nabi Adam as telah diciptakan Nya tanpa ayah dan ibu. Demikianlah penggambaran bagi kesempurnaan kodrat Allah serta kepastian kehendak-Nya. Gambaran tentang kecepatan terwujudnya apa yang dikehendaki oleh Allah tanpa batas waktu dan tanpa ada faktor penyebab, diterangkan Tuhan sendiri dalam firmannya ;
!$tBur !$tRãøBr& žwÎ) ×oyÏmºur £xôJn=x. ÎŽ|Çt7ø9$$Î/ ÇÎÉÈ  
dan perintah Kami hanyalah satu Perkataan seperti kejapan mata.(al Qomar ; 50)

          Apa yang diperintah itu pasti segera terjadi, perintah seperti itu dinamai perintah “takwin” orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah, tidak membenarkan Isa dilahirkan dengan tidak berayah, karena fikiran mereka hanya terbatas kepada kejadian-kejadian yang biasa saja. Mereka tidak menyadari bagaimana terjadinya alam semesta ini. yang memustahilkan kejadian seorang anak tanpa ayah.



Surat Maryam ayat 16-22


öä.øŒ$#ur Îû É=»tGÅ3ø9$# zNtƒötB ÏŒÎ) ôNxt7oKR$# ô`ÏB $ygÎ=÷dr& $ZR%s3tB $wŠÏ%÷ŽŸ° ÇÊÏÈ   ôNxsƒªB$$sù `ÏB öNÎgÏRrߊ $\/$pgÉo !$oYù=yör'sù $ygøŠs9Î) $oYymrâ Ÿ@¨VyJtFsù $ygs9 #ZŽ|³o0 $wƒÈqy ÇÊÐÈ   ôMs9$s% þÎoTÎ) èŒqããr& Ç`»uH÷q§9$$Î/ y7ZÏB bÎ) |MZä. $|É)s? ÇÊÑÈ   tA$s% !$yJ¯RÎ) O$tRr& ãAqßu Å7În/u |=ydL{ Å7s9 $VJ»n=äñ $|Å2y ÇÊÒÈ   ôMs9$s% 4¯Tr& ãbqä3tƒ Í< ÖN»n=äî öNs9ur ÓÍ_ó¡|¡ôJtƒ ׎|³o0 öNs9ur à8r& $|Éót/ ÇËÉÈ   tA$s% Å7Ï9ºxx. tA$s% Å7š/u uqèd ¥n?tã ×ûÎiüyd ( ÿ¼ã&s#yèôfuZÏ9ur Zptƒ#uä Ĩ$¨Z=Ïj9 ZpuH÷quur $¨YÏiB 4 šc%x.ur #\øBr& $|ÅÒø)¨B ÇËÊÈ   * çm÷Gn=yJyssù ñVxt7oKR$$sù ¾ÏmÎ/ $ZR%s3tB $|ÅÁs% ÇËËÈ  
dan Ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,(19;16)

Tafsir

Dan ceritakanlah hai Muhammad dalam kitab Alquran yang diturunkan kepadamu kisah Maryam binti Imran ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat yang berada di sebelah Timur Baitulmakdis untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadat kepada Tuhannya. Ibnu Abbas berkata, "Aku paling mengetahui di-antara semua makhluk Allah tentang apa sebabnya kaum Nasrani menjadikan kiblatnya ke arah Timur, yaitu karena memperhatikan firman Allah Azza Wajalla yang menerangkan bahwa Maryam menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah Timur, lalu mereka menjadikan tempat kelahiran Nabi Isa a.s. itu kiblat.[4]
Ketika Allah swt telah menceritakan kisah Zakaria as. Bahwa di saat kondisi masa tuanya dan kemandulan istrinya, dia diberi oleh Allah seorang anak yang pandai, suci dan berkah, Allah mennyambung firman-Nya dengan kisah Maryam yang di berikan seorang putra yaitu Isa as tanpa ayah. Karena kedua kisah tersebut memiliki kesesuaian dan kesamaan. untuk menunjukkan kepada Hamba-hamba Nya tentang kekusaan dan keagungan kerajaan Nya serta Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.[5]
Dalam Tafsir Al Misbah di katakan ayat-ayat di atas memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa ceritakan kisah dalam Al quran yaitu tentang Maryam putri Imran, yakni ketika ia bersungguh-sungguh menjauhkan diri dari keluarganya bahkan dari seluruh manusia kesuatu tempat di sebelah timur dari tempat tinggalnya atau sebelah timur dari baitul maqdis. Berbeda dengan banyak ayat yang hanya memeritahkan Nabi Muhammad untuk mengingat atau menceritakan dengan menggunakan kata Idz atau udzkur , berbeda dengan itu ayat di atas menambahkan kata al-Kitab yakni al Quran sehingga dengan kata itu ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk membacakan tentang kisah dan keutamaan beliau yang Nabi ketahui. Thahir ibn Asyur menduga bahwa surat ini adalah surat pertama yang menggunakan secara tegas kata Udzkur dalam konteks uraian tentang kisah-kisah para nabi. Kata Makanan Syarqiyan mengesankan bahwa tempat itu sengaja dipilih, sebagai isyarat terbitnya cahaya ilahi, Ibnu Abbas bahwa itu adalah isyarat tentang kiblatnya orang-orang Nasrani karena mereka menjadikan arah timur sebagai arah kiblat ketika shalat.[6]

Maka ia Mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami, Maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (19;17)

Tafsir
Maka Maryam mengadakan tabir (dinding) yang melindunginya dari pandangan keluarganya dan manusia. Kemudian Allah mengutus Malaikat Jibril kepadanya dalam bentuk seorang laki-laki yang rupawan untuk memberitahukan kepada Maryam bahwa beliau akan melahirkan seorang putra tanpa ayah. Adapun hikmah kedatangan Jibril dalam bentuk manusia itu agar supaya tidak menimbulkan ketakutan.[7]
          Mujahid dan adh Dhahhak, Qatadah, ibnu Juraij, wahb bin Munabbih dan as-Suddi berkata tentang firman Allah “lalu kami mengutus ruh Kami kepadanya,” yaitu Jibril as inilah pendapat yang mereka katakan dan ini pula zahir maknanya dalam al Quran di mana Dia berfirman dalam ayat yang lain ; “Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,”(Qs as Syua’ara : 193-194)[8]

Maryam berkata: "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa".(19:18)

Tatkala Maryam melihat ada seorang laki-laki di-tempatnya yang terasing itu, beliau berlindung kepada Allah Taala dari kejahatan yang mungkin timbul seraya berkata, "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah; jangan sekali-kali kamu mengganggu aku jika kamu bertakwa kepada Nya, sebab setiap orang yang bertakwa itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.[9]
          Ini merupakan cara yang disyariatkan dalam mempertahankan diri yaitu dengan cara yang ringan yakni di ingatkan pertama kali kepada Allah swt Ibnu jarir dari Ashim berkata ; “setelah menceritakan kisah Maryam, Abu Wail berkata : ia mengerti bahwa orang yang bertaqwa itu adalah orang yang memiliki batas.[10]
          Kata Ar-Rahman yang di ucapkan sayidah Maryam ini, dapat juga dijadikan alasan untuk menguatkan pendapat yang menyatakan kata tersebut telah dikenal sebelum turunnya al Quran kendati kaum musyrikin Mekkah tidak mengenalnya sebagai nama tuhan yang mereka sembah. Nabi Sulaiman as dalam suratnya kepada Ratu Saba’ juga menggunakan kata tersebut bahkan menggunakan Basmallah (baca Qs. An Naml ; 30)[11]

ia (Jibril) berkata: "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci". ( 19 ; 19)

Malaikat Jibril berkata untuk menenteramkan hati Maryam dan menghilangkan kecurigaannya seraya berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan dari Tuhanmu untuk memberikan kepadamu seorang anak laki-laki yang suci dari segala macam noda dan celaan". Malaikat Jibril menyebutkan bahwa dia sendiri yang akan memberikan anak laki-laki itu, karena ia diperintahkan oleh Allah Taala untuk meniupkan roh ke dalam tubuh Maryam.[12]
          Maka berkatalah malaikat, menjawab perkataannya dan menghilangkan kekhawatiran terhadap dirinya : sesungguhnya aku tidak termasuk orang yang kamu sangka, dan tidak mugkin kejahatan yang kamu kira itu akan terjadi dariku. Akan tetapi aku adalah utusan tuhanmu yang di utus kepadamu, agar aku memberimu seorang anak laki-laki suci yang selamat dari segala cela. Penyadaran pemberian kepada Jibril karena memang pemberian itu datang melalui tangannya, dalam arti dia yang meniupkan ruh dalam rahimnya dengan perintah Allah.[13]

Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!"(19;20)

Maryam merasa sangat terkejut mendengar berita itu dan dengan keheranan berkata, "Bagaimana aku akan mendapat seorang anak laki-laki padahal belum pernah seorang manusiapun yang menyentuhku; dan aku bukan pula seorang pezina".[14]
Perkataan Maryam as. Wa lam aku bagiyan aku bukanlah seorang pezina setelah menyatakan, wa lam yamsasni Basyarun/tidak seorangmanusia pun menyentuhku¸bukan sekedar pengulaangan atau penekanan, tetapi masing-masing mengandung makna yang berbeda, yang pada akhirnya saling menguatkan. Ucapannya menafikan sentuhan manusia, mengandung makna bahwa ia belum pernah berhubungan seks. Ini ditegaskannya karena ketika itu beliau telah di pinang oleh Yusuf an Najjar. Dengan demikian boleh jadi timbul dugaan bahwa telah terjadi sesuatu antara keduanya bila ia hamil, di sisi lain bila kehamilan terjadi pastilah tunangannya akan sangat kecewa dan marah. Adapun pernyataannya bahwa beliau bukan seorang penzina atau wanita lajang, maka ini untuk menegaskan bahwa sejak dahulu beliau bukanlah seorang wanita asusila dan itu akan di pertahankannya hingga masa datang.[15]

Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan". (19 ;21)

Jibril menjawab, "Demikianlah Engkau akan mendapat seorang anak laki-laki walaupun tidak bersuami ataupun tidak mengadakan hubungan dengan laki-laki; karena demikian itu adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan adalah yang demikian itu mudah bagi-Nya Dan Allah menjadikan demikian itu agar dijadikan bukti bagi manusia atas kekuasaan-Nya dan sebagai rahmat dari Allah karena kelak anak laki-laki itu akan menjadi seorang Nabi yang menyeru kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan itu suatu hal yang telah diputuskan Allah dan tidak dapat dirubah lagi".[16]
Dalam tafsir ibnu kasir disebutkan bahwa ini adalah petunjuk dan tanda bagi manusia tentang kekuasaan Pembuat dan Pencipta mereka, dimana hal tersebut salah satu bentuk cara menciptakan mereka, Allah swt telah menciptakan nenek moyang mereka yaitu Adam tanpa ayah dan ibu, Ia ciptakan Hawa dari laki-laki tanpa wanita, dan ia ciptakan seluruh keturunannya dari laki-laki dan wanita kecuali Isa as. Yang di ciptakan dari wanita tanpa laki-laki dengan demikian lengkaplah empat bagian yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya dan keagungan wewenang Nya, tidak ada illah selain Allah dan tidak ada Rabb selain Nya.[17]

Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. (19 ;22 )

Tafsir ;
         
          Setelah Jibril menerangkan maksud kedatangannya itu, maka Maryam menjawab, "Aku menyerah diri kepada ketetapan Allah". Lalu Jibril meniupkan roh Nabi Isa ke dalam lengan baju Maryam sehingga mengakibatkan beliau mengandung, lalu beliau mengasingkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh untuk menghindari tuduhan dan cemoohan dari Bani Israel.[18]
          Ibnu Abbas mengatakan bahwa Jibril meniup kantong besi bajunya, lalu tiupan itu masuk kedalam rahimnya, maka hamillah ia. Yang lain mengatakan bahwa Jibril meniup dari lengan bajunya. Sedang Al quran menetapkan tiupan itu, “maka kami tiupkan kepadanya dari Ruh Kami” tanpa menentukan tempat tiupan.[19] Malaikat jibril meniupkan ruh dilengan bajunya yang kemudian ruh itu mengalir ke farji sehingga ia mengandung anak dengan izin Allah. Ketika ia hamil, ia merasa kesulitan, tidak tahu apa yang akan di katakan kepada orang-orang karena ia mengetahui bahwa mereka tidak akan percaya dengan ceritanya, akan tetapi ia ingin menceritakannya kepada istri zakaria.[20]
          Mayoritas ulama menegaskan bahwa kelahiran nabi Isa as melalui proses biasa, yakni kehamilan selama sembilan bulan, bukannya seperti pendapat sementara orang bahwa ia terjadi sekejap, dengan bersandar kepada pada firman Nya yang menyatakan bahwa Adam dan Isa as dilahirkan dengan kalimat kun fayakun . sebenarnya kalimat ini sama sekali bukan berarti terjadinya sesuatu dengan kalimat itu atau masa pengucapan kalimat itu, bukankah terbaca diatas, bahwa proses yang terjadi pada saat kelahirannya, proses yang memakan waktu lebih lama dari masa pengucapan kalimat kun fayakun itu masa kelahirannya.sedang masa kehamilannya tidak di singgung di sini.[21]

          Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan". ( 19 : 23)

Tafsir
          Ketika beliau merasa sakit karena akan melahirkan anaknya, maka beliau terpaksa bersandar pada pangkal pohon karma untuk memudahkan kelahiran dan dengan penuh kesedihan beliau berkata, "Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan. Beliau mengharapkan seandainya beliau ini mati saja sebelum ini karena merasa beratnya penderitaan akibat melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah yang berakibat timbulnya tuduhan dan cemoohan dari kaumnya yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya: atau beliau mengharapkan menjadi sesuatu benda yang tidak berarti dalam pandangan manusia, lagi dilupakan.[22]
          Muhammad bin Ishaq berkata ; Ketika ia hamil, perutnya membesar dan darahnya terhenti sebagaimana kebiasaan wanita yang hamil, dari darahya terhenti sebagaimana kebiasaan wanita yang hamil, dari rasa sakit dan perubahan warna, sampai lidahnya pecah-pecah.
          As-Suddi berkata : Maryam berkata sambil melihat kehamilannya karena malu kepada orang lain ; aduha, alangkah baiknya aku mati sebelum bencana dan kesedihan yang aku alami sekarang akibat lahirnya anakku yang tanpa ayah. Dilupakan lalu dibiarkan tanpa dicari. Seperti pelapis haidh jika sudah dibuang dan dicampakkan, maka ia tidak lagi dicari dan tidak lagi di ingat. Demikian pula segala sesuatu yang dilupakan. Kita telah membahas hadits-hadits yang menunjukkan larangan mengharapkan kematian kecuali ketika dalam keadaan fitnah para firman Allah, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.( Qs. Yusuf ayat 101) [23]

          Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.(19 ;24)



Tafsir
          Maka datanglah Jibril dan berseru dari Suatu tempat di bawahnya; "Janganlah kamu bersedih hati, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mengalirkan sebuah anak sungai di bawahmu". Ini merupakan suatu rahmat bagi Maryam karena di tempat itu pada mulanya kering tidak ada air yang mengalir.[24]
          Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam ayat ini.
          Al Aufi dan lain-lain berkata dari ibnu Abbas yang menyeru adalah Jibril as sedangkan Isa as tidak da[at berbicara kecuali setelah menemui kaumnya. Demikian pula pendapat said bin Jubair, adh-Dahhak, ‘amr bin Maimun, as-suddi dan Qatadah. Sedangkan Mujahid berpendapat bahwa yang menyeru adalah Isa as[25]
          Dalam tafsir al Maragi ayat ini menjelaskan bahwa Isa as menyerunya. Demikian kata Hasan basri dan Sa’id bin Jubair ( Allah telah membuat Isa as mampu berbicara ketika dia melahirkannya, untuk menyenangkan hati dan mengusir kesepiannya sehingga ketika itu ia dapat menyaksikan untuk pertama kali keluhuran derajat anak yang dikabarkan oleh Jibril as. Isa berseru wahai ibunda, janganlah engkau bersedih hati. Sesungguhnya Tuhanmu yang telah berbuat baik kepadamu telah menjadikan dibawahmu seorang anak lelaki yang mempunyai derajat luhur dan pemurah.”[26]
         
dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, (19 ;25)

Tafsir :
Dan condongkanlah pohon kurma itu kepadamu dan goyangkanlah dia dan nanti pohon itu akan menjatuhkan beberapa buah kurma yang telah masak kepadamu. Dan ini adalah rahmat yang lain untuk Maryam karena pada mulanya pohon kurma itu telah kering, dengan kehendak Allah menjadi hijau dan subur kembali serta berbuah sebagai rezeki untuk Maryam.[27]
Pada ayat diatas terlihat bagaimana Maryam yang dalam keadaan lemah itu masih diperintahkan untuk melakukan kegiatan dalam bentuk menggerakkan pohon guna memperoleh rizki-walaupun boleh jadi pohon itu tidak dapat bergerak karena lemahnya fisik Maryam setelah melahirkan.[28]

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".(19 ; 26)



Tafsir :
          Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu karena mendapat rezeki itu dan hilangkanlah kesedihan hatimu karena Allah berkuasa untuk membersihkanmu dari segala tuduhan yang tidak pantas, sehingga kamu tetap dianggap sebagai wanita yang suci tidak pernah ternoda. Dan jika kamu melihat seorang manusia yang bertanya tentang persoalanmu dan persoalan anakmu, maka isyaratkanlah kepadanya "Sesungguhnya aku telah bernazar atas diriku untuk berpuasa semata-mata untuk Tuhan Yang Maha Pemurah dan aku tidak akan berbicara langsung dengan seorang manusiapun pada hari ini, karena ucapanku itu mungkin ditolak dan tidak dipercayai, akan tetapi akan kusuruh bayi yang baru dilahirkan ini untuk berbicara atas namaku dan menerangkan kejadian yang sebenarnya"[29]
          Anas bin Malik berkata bahwa sauman berarti diam, demikian perkataan ibnu Abbas dan ad Dhahhak dalam riwayat lain dari Anas. “puasa dan diam”, demikian perkataan Qatadah dan lain-lain. Maksudnya adalah bahwa ketika mereka berpuasa dalam syariat mereka berarti diharamkan makan dan berbicara.[30]
          Bernazar untuk tidak berbicara merupakan salah satu cara ibadah yang dikenal pada masa lalu, termasuk oleh masyrakat jahiliyah. Sisa dari ibadah tersebut masih nampak hingga kini dalam bentuk mengheningkan cipta. Rasulullah melarang melakukan puasa diam. Allah mengilhamkan Maryam as agar jangan berbicara bermaksud membungkan semua yang meragukan kesucian beliau melalui ucapan bayi yang dilahirkannya itu. Ini juga mengesankan bahwa tidaklah terpuji berdiskusi dengan orang-orang yang bermaksud mencari kesalahan atau yang tidak jernih pemikiran dan hatinya.[31]

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: "Hai Maryam, Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang Amat mungkar.(19 ; 27)

Tafsir ;
Setelah Maryam diperintahkan untuk berpuasa pada hari melahirkan putranya dan tidak berbicara dengan seorangpun dan setelah ada jaminan dari Allah bahwa kehormatannya tetap terpelihara, maka beliau menyerahkan seluruh nasibnya pada ketetapan Allah, beliau membawa anaknya kepada kaumnya dan menggendongnya hal mana menyebabkan kaumnya ingkar dan mencela perbuatannya seraya berkata, "Hai Maryam! Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perbuatan yang amat mungkar".[32]

Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", (19 : 28)

Tafsir :
Kemudian mereka menambah celaan dan cemoohan serta tuduhan kepada Maryam seraya berkata, "Hai saudara perempuan Harun! Ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang wanita tuna susila. Bagaimana kamu sampai mendapatkan anak ini. Kepada beliau dipanggil dengan sebutan "Saudara perempuan Harun", oleh karena telah menjadi kebiasaan Bani Israel untuk menyebutkan nama-nama para Nabi dan orang-orang saleh sebelumnya.[33]
Istilah uktiy Harun menjadi bahan perbincangan para ulama, sementara cendikiawan non muslim menjadikan istilah tersebut sebagai bukti kesalahan al Quran, karena menurut mereka antara Harun yang merupakan saudara Musa as dan Maryam terdapat jarak ratusan tahun. Sementara ulama menyatakan bahwa  sebenarnya keberatan ini bukanlah hal baru, tetapi telah di kenal sejak masa nabi saw Diriwayatkan oleh Al Mugirah bin Syu'bah bahwa beliau diutus oleh Rasulullah saw, ke Najran di negeri Yaman, dimana terdapat banyak orang-orang Nasrani dan mereka bertanya kepadanya, "Mengapa kamu membaca Alquran, hai saudara perempuan Harun, padahal Harun dan Musa itu hidupnya lama sekali sebelum lahirnya Isa putra Maryam?". Mugirah tidak sempat memberikan jawaban dan ketika beliau pulang ke Madinah dan menghadap Rasulullah, beliau mengemukakan pertanyaan itu. Oleh Rasulullah. saw dijawab, "Mengapa olehmu tidak diberitahukan bahwa kebiasaan Bani Israel itu suka menyebut-nyebut nama para Nabinya dan orang-orang yang saleh sebelumnya"? yakni orang-orang saleh .masyarakat yang hidup pada masa Maryam as, dinamai dengan nama-nama para nabi seperti menamai Maryam dengan saudara dari nabi yang shaleh yaitu Nabi Harun as. Bukan dalam arti bahwa Maryam adalah saudara Nabi Harun.[34]

Badawi  menyimpulkan pendapat-pendapat yang di kemukakan pakar-pakar tafsir dengan merujuk kepada tafsir ath-thabari. Ada yang berpendapat bahwa dia disebut sebagai saudara perempuan Harun untuk memberikan atrbut kesalihan dan, karena nama Harun biasa disebutkan kepada orang yang shaleh dari kalangan masyarakat waktu itu, sehingga siapa saja yang mempunyai sifat seperti itu maka ia disebut Harun. Dengan demikian nama Harun disini, menurut pendapat ini, bukan Harun saudara nabi Musa as, ada juga yang berpendapat Bahwa Harun disini dijadikan atribut kebejatan. Maryam diperbandingkan dengan ia, mengingat masyarakat waktu itu mencurigai kesuciannya. Pendapat yang ketiga menyatakan bahwa memang Maryam mempunyai saudara laki-laki yang bernama Harun yang dikenal sebagai seorang yang shaleh di kalangan bani Israil. Abdurrhman Badawi mengatakan bahwa penafsiran ungkapan “ya Ukhti Harun” sangat mudah, karena maksudnya sederhana, yaitu saudara dari keturunan Harun, penafsiran etimologis seperti ini sudah di anggap biasa dikalangan orang arab yang memahami bahasa Arab secara baik dan mendalaminya secara leksikografis.[35]

Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana Kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"(19:29)



Tafsir
Maka Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang hal keadaannya, karena beliau sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapapun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu. Orang-orang Yahudi bertanya dengan keheran-heranan, "Bagaimana kami akan berbicara dengan seorang bayi yang masih di dalam ayunan?". Mereka menduga bahwa Maryam memperolok-olok mereka.[36]
          Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari bahwa Isa as dapat berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian. Orang-orang Nasrani mengemukakan hujjah bahwa hal ini termasuk peristiwa yang jika memang benar terjadi, nisacaya banyak faktor yang menukilnya secara mutawattir, karena hal itu termasuk sifat-sifat yang mulia dan keutamaan yang mempunyai keistimewaan teragung di tengah-tengah manusia. Karena hal itu tidak kami ketahui, padahal kami senantiasa mengikuti segala keutamaannya, dan selalu meneliti ihwalnya baik yang mulia maupun yang hina, lalu kami mengetahui bahwa hal itu tidak ada.[37]


B.   Pendidikan yang dapat di Ambil dari kisah Maryam

1.      Kisah ibu maryam Hannah binti Faqud bernazar agar anak yang berada dalam kandungan mengajarkan kepada setiap keluarga muslim agar menyematkan harapan mulia bagi janin.
2.      Fase kehamilan, fase yang sangat penting, mengabaikannya berarti kehilangan sebuah fase penting.
3.      Memberikan nama yang baik merupakan suatu hal yang di sunnahkan sebagaimana Istri Imran memberi nama Maryam yang bernakna seorang ahli ibadah yang berkhitmad kepada Allah.
4.      Memohon dan berdoa untuk janin dan keluarga dari setan yang terkutuk sebagaimana Istri Imran berdoa untuk Maryam dan keluarganya.
5.      Membesarkan anak dalam suasana iman, keyakinan dan kebesaran Allah sehingga ia yakin semua datanya dari Allah.
6.      Istri Imran mengajarkan bahwa Pemberian yang Allah berikan kepada manuasia lebih baik dari apa yang diinginkan, sebagaimana ia meminta seorang anak laki-laki namun Allah mengkaruniakan Maryam seorang yang mulia.
7.      Mengusahakan anak diberi pelaran agama yang baik sebagaimana maryam di asuh oleh zakaria yang shaleh
8.      Allah swt telah menciptakan nenek moyang mereka yaitu Adam tanpa ayah dan ibu, Ia ciptakan Hawa dari laki-laki tanpa wanita, dan ia ciptakan seluruh keturunannya dari laki-laki dan wanita kecuali Isa as. Yang di ciptakan dari wanita tanpa laki-laki dengan demikian lengkaplah empat bagian yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya dan keagungan wewenang Nya, tidak ada Illah selain Allah dan tidak ada Rabb selain Nya
9.      Maryam mengajarkan kepada seluruh wanita agar menjaga kesucian dan kehormatannya
10.  Hendaknya setiap mukmin Memohon perlindungan kepada Allah ketika menolak kekejian sebagaimana Maryam memohon perlindungan kepada Allah.
11.  Hendaknya seorang ibu bersabar dalam keadaan mengandung janin dalam perutnya
12.  Tidaklah terpuji berdiskusi dengan orang-orang yang bermaksud mencari kesalahan atau yang tidak jernih pemikiran dan hatinya sebagaimana Maryam berpuasa untuk berbicara mengahadapi kaumnya
13.  Buah kurma merupakan makanan yang sangat baik bagi wanita yang sedang dalam masa nifas/selesai melahirkan karena ia mudah di cerna, lezat lagi mengandung kalori yang tinggi.
14.  Bagi ibu hamil selain harus memperhatikan asupan makan dan minum juga perlu memperhatikan suasana hati.

PENUTUP

            Keluarga Imran merupakan satu-satunya keluarga yang menjadi nama surat dalam Al-Qur’an. Keluarga yang melahirkan Maryam yang namanya juga menjadi nama surat dalam al Quran. Ketaatan dalam beribadah kepada Allah memberikan kemulian kepada mereka.
            Maryam mendapatkan proses pendidikan yang baik dari ibunya di dalam kandungannya kemudian setelah dilahirkan mendapatkan pendidikan yang baik oleh zakaria dan istrinya seorang yang shaleh lagi taat beribadah. Sehingga Maryam mewarisi ketaat dan keshalehannya.
            Maryam yang taat beribdah dan berkhitmad kepada Allah diberikan kemulian dengan melahirkan seorang anak laki-laki tanpa seorang ayah. Sebagaimana Allah swt telah menciptakan nenek moyang mereka yaitu Adam tanpa ayah dan ibu, Ia ciptakan Hawa dari laki-laki tanpa wanita, dan ia ciptakan seluruh keturunannya dari laki-laki dan wanita kecuali Isa as. Yang di ciptakan dari wanita tanpa laki-laki yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya dan keagungan wewenang Nya, tidak ada Illah selain Allah dan tidak ada Rabb selain Nya.




REFERENSI
1.      Tafsir Ibnu Katsir Juz 16
2.      Tafsir Al Misbah
3.      Tafsir Al Maraghi
4.      Syaik Muhammad Ali Ash Shabuni, shafwatut tafasir jilid 1, Jakarta : Pustaka Al Kautsar. 2001
5.      Terjemah dan Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia









[1] Shafwatut Tafasir Jilid 1 hal 432
[2] Lihat Shafwatut Tafasir Jilid 1 hal 433
[3] Tafsir Ath-Thabari (6/351) lihat Shafwatut Tafasir jili 1 hal 441
[4] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[5] Lihat Tafsir ibnu katsir juz 16 318
[6] Lihat Tafsir al Misbah
[7] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[8] Lihat Tafsir ibnu katsir juz 16 318
[9] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[10] Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16 320
[11] Lihat tafsir al Misbah hal 165
[12] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[13] Tafsir al Marogi hal 70
[14] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[15] Lihat Tafsir al Misbah
[16] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[17] Lihat ibnu Katsir juz 16 hal 320
[18] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[19] Lihat tafsir Al Maragi
[20] Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16 hal 321
[21] Lihat Tafsir Al Misbah
[22] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[23] Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16 hal 323
[24] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[25] Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16 hal 324
[26] Lihat Tafsir al Maragi hal 76
[27] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[28] Lihat Tafsir Al Misbah
[29] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[30] Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 16 hal 325
[31] Lihat Tafsir al Misbah
[32] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[33] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[34] Lihat Tafsir Al Misbah
[35] Ibid
[36] Lihat Tafsir Al Quran Departemen Agama
[37] Lihat tafsir Al Maragi

0 komentar: