Aku-Rektor-dan kawan-kawan

Acara Itikaf Mahasiswa Universitas Djuanda Bogor Di Ciloto Puncak

Acara Wisuda

Langkah Awal Menuju Cita-cita

Foto Guru-guru Acara Wisuda

SMP AMALIAH CIAWI BOGOR

Cita-Cita

Mesti Harus Merangkak

Merindukan Rasulullah

Masjid Nabawi

Selasa, 26 Maret 2013

Seri pend. Anak 1


SALAH ANAK ATAU ORANG TUA?

Suatu hari seorang ibu mengeluhkan kepada saya tentang kenakalan anaknya, jika dinasihatin selalu membantah, sampai ibu tersebut angkat tangan untuk mengatasi kenakalan anaknya.

Saya  Sebagai seorang guru yang belum menikah dan tentunya belum pernah merasakan memilki seorang anak  tidak dapat berkata banyak saya hanya menyarankannya agar  bersabar dan teruslah berdoa untuk kebaikan anaknya. Karena sejarah membuktikan sebaik apapun orang tua mendidik anak jika Allah menakdirkannya menjadi anak yang tidak baik maka ia akan tetap pada ketidak baikannya.

Kisah para nabi memberikan inspirasi kepada kita, ada Ismail yang sholeh, taat dan patuh kepada ayahnya ibrahim, adapula kisah durhaka anak nabi luth. Namun usaha nabi Luth membujuk dan mendidik anaknya  begitu besar dan luar biasa. Hingga di puncak gunung sang nabi menyerunya untuk ikut kepada jalan ayahnya namun ia tetap menolak. Kisah nabi luth ini mengajarkan kita untuk tetap mendidik dengan baik anak-anak kita hingga takdir nanti yang menjadikan anak kita baik atau tidak.

Pembahasan

Anak merupakan amanah yang diberikan Allah kepada orang tua, orang tuanyalah yang akan membentuknya menjadi baik dan tidak. hal tersebut di perjelas dalam sebuah hadits.

Sabtu, 23 Maret 2013

Konsep Kecerdasan


Kecerdasan berasal dari kata cerdas yaitu sempurna perkembangan akal budi untuk berfikir dan mengerti (Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1993 : 186). Menurut definisi dalam kamus Oxford (2008 : 232), padanan kata cerdas yaitu, kata ‘intelegent’ didefinisikan sebagai berikut : good at learning, understanding and thinking in a logical way about things; showing this ability. Artinya baik dalam pengetahuan, memahami dan berfikir secara logis tentang sesuatu, memperlihatkan kemampuan.
            Terdapat beberapa pandangan dalam mendefinisikan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg & Slater mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif (http: wikipedia.org : 2010).
            Terdapat perbedaan definisi antara kepintaran dengan kecerdasan, Kepintaran (Rudisisyanto : 2010)  adalah kemampuan seseorang dalam menyerap informasi berupa ilmu pengetahuan; informasi itu bisa dari mana saja. Informasi dari buku bacaan, dari internet, majalah, guru yang mengajar di kelas, amanat upacara, dan lain-lain. Seberapa banyak akumulasi dari informasi ilmu pengetahuan yang terserap ini menunjukkan seberapa pintarnya seseorang, dan karena daya serap informasi manusia itu berbeda-beda kadarnya; ada yang daya serap terhadap informasi baik dan ada yang kurang baik, maka ada sebutan orang yang pintar dan kurang pintar. Sedangkan kecerdasan adalah kemampuan dalam mengelola kepintaran yang  dimiliki.
Dalam Islam istilah kecerdasan disebutkan dengan kata ”Al-kaisu” sebagaimana disebutkan dalam riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad :

Kamis, 14 Maret 2013

Pergaulan Bebas sudah kita dapatkan sejak kita Mulai Sekolah TK dan SD


Kita pun sudah dibiasakan untuk Beriktilat secara berjamaah di Sekolah (Sekolah Umum)

Sadar atau tidak ternyata kita telah terbiasa beriktilat dengan lawan jenis. Sejak menempuh pendidikan mulai dari Play Group atau Taman Kanak-kanak hingga universitas kita berbaur bebas dengan lawan jenis. Padahal tidak semua siswa/siswi, pelajar atau mahasiswa memahami betul bagaimana bentuk ikhtilat yang dibolehkan oleh syariat dan yang tidak.
Di negara kita Indonesia, sekolah-sekolah umum di berbagai tingkatan mulai dari taman kanak-kanak dalam satu kelas biasanya antara laki-laki dan perempuan digabungkan, entah siapa yang merumuskan ketentuan tersebut seolah itu menjadi suatu hal wajar, padahal secara tidak sadar percampuran ini merupakan bibit awal terjadinya banyak penyimpangan seksual dan pergaulan bebas.
Yang disayangkan adalah para siswa/i, pelajar dan mahasiswa tidak di bekali bagaimana cara bergaul antara lelaki dan perempuan, pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) pun tidak ada materi kurikulumnya menjelaskan bagaimana bergaul antara lelaki dan perempuan kalau pun ada itu hanya dalam tataran teori. Akhirnya para siswa/i, pelajar dan mahasiswa tidak mengetahui dan terjerus kedalam jurang pergaulan bebas.
Saya yang awam belum juga mengerti betul apa dampak positif dari dicampurnya laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Saya lebih banyak melihat dampak negatifnya. Bukan berarti saya juga membatasi pergaulan, jika saja para siswa/i di bekali dan terus di bimbimbing dalam pergaulannya mungkin bisa saja. Tetapi apa mungkin seorang guru terus memantaunya jika ia tidak ada di pesantren, maka Pesantren adalah solusi bagi para orang tua untuk menyekolahkan anaknya.
Mengenai masalah ini kita yang awam mungkin tidak bisa merubah suatu sistem yang ada di sekolah-sekolah umum tersebut. Paling tidak apa yang saya tulis ini bisa menjadi wacana bagi siapa saja yang membaca. Bagi para peneliti dan pemerhati pendidikan. Wallahua’lam

Selasa, 05 Maret 2013

Untuk Kader Dakwah


Cerdas Menasihati ciri Kader yang Unggul
Saling Menasehati kepada kebaikan adalah salah satu tanda umat terbaik sebagaimana di sebutkan dalam Al Qur’an :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Tujuan yang baik Jika dilakukan dengan cara yang Salah maka ia akan menjadi Salah,,,

Menasihati ada adab dan cara, sehingga apa yang kita sampaikan tentang kebaikan tercapai,

kali ini saya akan menceriatakan kembali dari hasil apa yang saya baca, tentang adab seorang ulama Agung zaman dahulu bagaimana menyampaikan nasihat kepada murid kesayanganya, Syek Ahmad ibn Hambal

Dikisahkan Oleh Harun Ibn Abdillah Al Bagdadi :

Menjadi DAI


Menjadi dai adalah  memperbaiki diri, agar tak jadi pencibir, tapi penyabar, agar tak jadi pencela, tapi penyapa.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri, agar tak jadi penggunjing tapi pendamping, agar tak menambah putus asa, tapi membawa cahaya.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri, agar prasangka tak mengalahkan akhlak agar rasa benci tak mengalahkan sikap adil.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri, agar berkebenaran tanpa merasa paling benar. Agar berilmu tanpa merasa paling tahu.
Menjadi dai adalah memperbaiki diri agar lebih mudah dinasehati, sebab telinga sendiri lebih dekat dari milik sesama,
Kebenaran itu gagah perkasa. Kerendahan hati itu cantik jelita. Jadilah pasangan yang serasi dan memesona. 

dalam Buku Kicau Salim A Fillah 

Senin, 04 Maret 2013

Cacatan awal


AHLI SYURGA ATAU NERAKA

Jika ada diantara kita terbesit dalam hati, bahwa amalan mengantarkan kita menjadi Ahli syurga maka segeralah bertaubat karena kita tidak pernah mengetahui takdir kita menjadi Ahli syurga atau Neraka..
Jika ada diantara kita terbesit dalam hati, bahwa amalan kita mengantarkan kita menjadi Ahli neraka maka segeralah bertaubat dengan sebenar-benar taubat karena rahmat dan ampunan Allah lebih besar dari dosa-dosa yang kita lakukan...

Karena kita tidak pernah mengetahui takdir kita, maka tidak ada wewenang kita untuk mengatakan kepada diri kita apalagi pada orang lain ahli SYURGA atau ahli NERAKA.