Senin, 05 Oktober 2015

Kompetensi Profesional dan Perhatian Orang Tua tak Cukup untuk Memotivasi Siswa Belajar

Kompetensi Profesional dan Perhatian Orang Tua tak Cukup untuk Memotivasi Siswa Belajar

Abstrak

Zaenal Arifin, Pengaruh Kompetensi Profesional Guru dan Perhatian Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa Smp Amaliah Ciawi Bogor.
            Kata kunci : Kompetensi Profesional Guru, Perhatian Orang Tua dan Motivasi Belajar.
Program Pascasarjana (S-2) Institut PTIQ Jakarta, 2015
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman data-data empirik mengenai hubungan Kompetensi profesional guru dan perhatian orang tua, baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama dengan motivasi belajar siswa SMP Amaliah Ciawi Bogor. Hipotesis penelitian ialah (1) Terdapat pengaruh yang erat dan signifikan Kompetensi Profesional Guru Terhadap Motivasi Belajar Siswa Smp Amaliah Ciawi Bogor (2) Terdapat Pengaruh yang erat dan signifikan Perhatian Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa SMP Amaliah Ciawi Bogor.
Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode survei dengan pendekatan korelasi yang dilaksanakan di SMP Amaliah dengan melibatkan Siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, angket dan studi dokumenter. Analisis data mengunakan teknik korelasi product moment. Hasil pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :
Pertama, terdapat hubungan positif dan sedang antara Kompetensi profesional guru dengan motivasi belajar siswa. karena Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh skor koefisien korelasi Pearson correlation (ry1) adalah 0,409. Adapun besarnya pengaruh ditunjukkan oleh koefisien determinasi R(R square) = 0,167, yang berarti bahwa kompetensi profesionalguru memberikan pengaruh terhadap motivasi berprestasi sebesar 16,7%. hasil analisis regresi sederhana, menunjukkan persamaan regresi (unstandardized coefficients B) Ŷ = 62,600 + 0,375X1, yang signifikan pada taraf alpa 0,05.
Kedua, terdapat hubungan positif dan sedang antara perhatian orang tua dengan motivasi belajar siswa. Karena Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh koefisien korelasi Pearson correlation (ry2) adalah 0,620. Adapun besarnya pengaruh ditunjukkan oleh koefisien determinasi R2 (R square) = 0,385, yang berarti bahwa perhatian orang tua memberikan pengaruh terhadap motivasi berprestasi sebesar 38,5%. Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan persamaan regresi (unstandardized coefficients B) Ŷ = 27,703 + 0,712X2, yang signifikan pada taraf alpa 0,05.
Ketiga, terdapat hubungan positif dan sedang antara kompetensi profesional guru dan perhatian orang tua dengan motivasi belajar siswa. Karena diperoleh koefisien korelasi ganda (Ry1.2.) adalah 0,634. Adapun besarnya pengaruh ditunjukkan oleh koefisien determinasi R(R square) = 0,402, yang berarti bahwa perhatian orang tua memberikan pengaruh terhadap motivasi berprestasi sebesar 40,2%.  Memperhatikan hasil analisis regresi ganda, menunjukkan persamaan regresi (unstandardized coefficients B) Ŷ = 20,419 + 0,136X+ 0,632X2, yang signifikan pada taraf alpa 0,05.

Temuan ini diharapkan mampu memberikan konstribusi yang positif bagi sekolah dalam meningkatkan kompetensi profesional guru dan bagi orang tua agar memperhatikan anak-anaknya dalam belajar. 


Abstrak di atas merupakan hasil penelitian saya dalam rangka memenuhi tugas akhir Pascasarjana
dari temuan diatas saya berasumsi bahwa Kompetensi Profesional Guru dan Perhatian di Sekolah tersebut sudah baik, artinya hasil ini dapat dijadikan acuan bagi sekolah-sekolah yang ada di kota dan pringgiran kota manapun bahwa sebenarnya Kompetensi Profesional Guru dan Perhatian Orang tua tidak seburuk yang di bayangkan banyak orang. Guru-guru siap untuk meningkatkan Kompetensinya walaupun butuh proses dan dana yang cukup banyak, kemudian orang tua pun demikian orang tua masa kini bisa memperhatikan kebutuhan belajarnya.

kemudian yang muncul adalah kenapa hasil penelitian menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa tarafnya sedang, yakni hanya 68,55%.

berdasarkan kajian pustaka tentang motivasi meyebutkan bahwa kebutuhan sangat mempengaruhi motivasi seseorang meskipun ada banyak hal selain kebutuhan, sebagaimana disebutkan dibawah ini.

Rifa’i dan Chaterina menyatakan setidaknya terdapat enam faktor yang didukung oleh sejumlah teori psikologis dan penelitian terkait yang memiliki dampak substansial terhadap motivasi belajar peserta siswa. Keenam faktor yang dimaksud yaitu:
1)      Sikap
Sikap merupakan kombinasi dari konsep, informasi, dan emosi yang dihasilkan dalam predisposisi untuk merespon orang, kelompok, gagasan, peristiwa, atau objek tertentu secara menyenangkan atau tidak menyenangkan.
2)      Kebutuhan
Kebutuhan merupakan kondisi yang dialami oleh individu sebagai suatu kekuatan internal yang memandu siswa untuk mncapai tujuan.
3)      Rangsangan
Rangsangan merupakan perubahan di dalam persepsi atau pengalaman dengan lingkungan yang membuat seseorang bersifat aktif.
4)      Afeksi
Afeksi berkaitan dengan pegalaman emosional (kecemasan, kepedulian dan pemilikan) dari individu atau kelompok pada waktu belajar.
5)      Kompetensi
Teori kompetensi mengasumsikan bahwa siswa secara alamiah berusaha keras untuk berinteraksi dengan lingkungannya secara efektif. Rasa kompetensi pada diri siswa akan timbul apabila menyadari bahwa pengetahuan atau kompetensi yang diperoleh telah memenuhi standar yang telah ditentukan.
6)      Penguatan
Penguatan merupakan peristiwa yang mempertahankan atau meningkatkan kemungkinan respon. Penggunaan peristiwa penguatan yang efektif seperti penghargaan terhada hasil karya siswa, pujian, penghargaan sosial, dan perhatian.[1]

Kebutuhan siswa sejatinya di rancang dalam rangka kebutuhan hidup, baik secara material dan non material. curiganya Jangan-jangan Kurikulum yang ada tidak memenuhi kebutuhan siswa dalam mengahadapi kehidupannya. apa mungkin anak jenuh dengan aktifitas belajarnya. dengan segala macam mata pelajaran yang luar biasa banyak. 

disadari atau tidak kurikulum kita masih jauh dari yang diharapkan. perubahan kebijakan dilakukan oleh pemerintah yang berganti terus, dan tidak konsisten, pengaruh sosial dan politik negara sepertinya berpengaruh terhadap kurikulum yang ada.

 

---- to be continue----

[1] Rifa’i, Achmad dan Chaterina Tri Anni, Psikologi Pendidikan, Semarang: UNNES PRESS, 2009, hal. 162-168.






0 komentar: